Perkembangan Tipologi Arsitektur Masa Bangunan

Pada Konteks Prinsip Kepala-badan-kaki

 Arsitektur merupakan museum bagi suatu kebudayaan & peradaban pada ketika karya arsitektur tersebut pada rancang sampai terbangun. Secara tidak pribadi suatu ide pemikiran Jasa Arsitek Bangunan medan konsep suatu bangunan dipengaruhi sang kebudayaan dalam masa si arsitek merancang bangunan tadi. Arsitektur ditentukan aspek budaya, kemanusiaan & teknologi. Hal ini berakibat pula karya arsitektur menjadi penanda suatu tempat. Setiap zaman, setiap budaya, setiap tradisi mempunyai karakternya masing masing (Herman Hesse,1927). Begitu juga bangunan bangunan hasil pemikiran proses rancang arsitektur di Indonesia akan mengindikasikan sinkron zaman & loka nya berada. Bentuk pada arsitektur memiliki peran mengungkapkan pesan untuk dimaknai (Geoffrey Broadbent,1980), sebagai akibatnya bentuk dalam arsitektur sebaiknya mengikuti Jasa Arsitek Bangunan keadaan dengan lingkungan & budaya tempat nya terbangun. Saat ini, aspek identitas dan keberlanjutan nilai kelokalan & lingkungan memberikan imbas yang relatif akbar pada konsep arsitektur suatu bangunan. Arsitektur berkelanjutan adalah suatu respond aktualisasi diri eksistensi kita serta rasa peduli pada dunia sekitar kita (Jack A. Kramers). Salah satu aspek arsitektur berkelanjutan adalah desain yang kontekstual dengan lingkungan kurang lebih.

Perkembangan arsitektur terkini pada Indonesia, khususnya bangunan tinggi, poly mengadopsi bentuk-bentuk pemikiran dari luar negeri. Hasil pemikiran rasional dan kepentingan nilai hemat dan efisiensi dari pemberi tugas menjadikan bentuk bentuk geometris sederhana mendominasi konsep masa bangunan. Hal ini lumrah terjadi karena berbicara arsitektur terbaru, lebih mengutamakan suatu bahasa universal. Namun ada pula yang menerapkan wujud iconic menjadi penanda kehadiran bangunan tersebut sebagai pembeda berdasarkan bangunan sekitarnya. Tetapi, bukan berarti nilai “kelokalan” layak dihilangkan begitu saja. Tugas para arsitek merupakan mengadopsi & mengadaptasi nilai kelokalan tadi pada wujud pemikiran arsitektur terbaru.

Salah satu prinsip nilai kelokalan yang paling tak jarang disesuaikan sang karya arsitektur di Indonesia berdasarkan masa ke masa merupakan prinsip pembagian proporsi bentuk bangunan sebagai metafora tubuh insan pada wujud “Kepala-Badan-Kaki”. Indonesia memiliki sekitar 300 suku budaya, & hampir seluruh arsitektur tradisional pada Indonesia mempunyai prinsip tadi. Dalam kaitannya buat memenuhi nilai keberlanjutan terhadap budaya lokal, telah seharusnya semua karya arsitektur mengadopsi nilai nilai kelokalan sebagai wujud pendekatan genus loci. Tetapi tidak sanggup semua prinsip kelokalan bisa di adopsi terhadap konsep rencang arsitektur modern. Arsitek perlu menentukan hal hal prinsip yg pula akan menambah nilai kualitas bangunan tersebut. Nilai kelokalan tidak hanya melihat sisi bentuk arsitektur tradisional, namun pula filosofi di masyarakat dan jua kontekstual lingkungannya. Keberlanjutan nilai lokal dan lingkungan tidak perlu menciptakan karya arsitektur terjebak dalam suatu slogan dibandingkan pencapaian adaptasi nilai nilai tadi kedalam bangunan arsitektur terkini.

Konflik yang diangkat bukan sekedar menurut metafora bentuk, akan tetapi menurut pendekatan karakter lingkungan & sosial budaya lokal. Tipologi bentuk bangunan tadi umumnya cenderung monolith. Bentuk bentuk sederhana dan monolith sebenarnya sudah ada semenjak masa arsitektur terkini era International Style. Karya-karya Mies van De Rohe, Phillip Johnsson, Otto Hassler atau Walter Gropius. Salah satu arsitektur masa kiniyg mencoba bertransformasi terhadap konsep “Kepala-Bdan-Kaki” adalah gedung Gran Rubina atau yg pula dikenal dengan Generali Tower yang terletak di Epicentrum Park Kuningan, Jakarta Selatan. Gedung yang pada desain sang PDW Architects dan bekerjasama menggunakan Konsultan Arsitektur AG5 dari Denmark ,sebagai konseptor green design & sustainable architecture, berbentuk amsa bangunan yg sederhana tetapi justru mempunyai daya tarik menurut permainan facade bangunannya yg berupa secondary skin dengan permainan pola “wave”.

Masa bangunan Gran Rubina cenderung monolith dan geometris sederhana. Pendekatan kontekstual kelokalan pada proyek ini merupakan dengan mengangkat filosofi tampilan tekstur dalam bangunan tradisional. Analogi dari bangunan bangunan di trowulan yang menampilkan tekstur susunan bata diterjemahkan kedalam kulit bangunan dengan memakai sirip sirip yang jua menjadi pengontrol cahaya masuk ke pada bangunan. Bangunan ini masih menunjukkan pemisahan bagian kaki menggunakan finishing yg tidak sama dengan keseluruhan façade bangunan. Tetapi nir terlihat pemisah atau pembeda badan & ketua bangunan yg jelas, kecuali bila lampu pada area mahkota bangunan dinyalakan pada malam hari maka warna hijau pada bagian mahkota bangunan mampu menciptakan persepsi menjadi area kepala bangunan.

Perkembangan arsitektur modern menyebabkan tipologi masa bangunan mengalami modifikasi. Tidak semua bangunan mengadopsi prinsip ketua-badan-kaki terutama bangunan bangunan tinggi, tetapi arsitek permanen dituntut menjaga keberlanjutan nilai lokal dan menjawab konteks lokal di lingkungan kurang lebih karya arsitektur tadi akan dibangun. Kadang, pemisahan antara ketua, badan & kaki tetap di lakukan oleh arsitek tetapi dengan modifikasi bahasa keindahan yang tidak selaras. Pemisahan tersebut nir terlihat terlalu jelas sehingga masa bangunan terlihat menjadi satu kesatuan bentuk yg monolith.

Rapoport, Amos, 1969, House Form and Culture, Practice Hall Inc, Engelwood Cliftts, New Jersey.

Kurniasih, Sri, 2010, Evaluasi Tentang Prinsip Arsitektur Berkelanjutan, Arsitron Vol 1, Jurnal fakultas Teknik Budi Luhur, Jakarta.

Broadbent ,Geoffrey, 1980, Sign Symbol in Architecture, John Willey & Sons, London

Herrle, Peter dan Wegerhoff, Erik, 2008, Architecture and Identity, Lit Verlag, Berlin

Tjahjono, Gunawan dan Milksic, John, 2002, Jasa Arsitek Bangunan Arsitektur, Indonesian Heritage, Grolier International

Leave a Reply

Your email address will not be published.